Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Februari 2013

NASIB MUJUR ATAUKAH SIAL?



Dahulu sewaktu saya masih anak-anak-sebelum tidur, hampir tiap malam Nenek menuturkan berbagai dongeng. Misalnya seperti ini:

Dahulu kala ada pria tua yang memiliki seorang anak laki-laki dan seekor kuda. Suatu hari, kudanya lepas lari ke perbukitan.

Tetangga pria itu bersimpati padanya. “Betapa sial nasibmu karena kehilangan kudamu,” kata mereka.

“Mengapa kalian berkata begitu?” jawab sang pria tua. “Siapa yang dapat memutuskan apakah itu nasib sial?”

Keesokan harinya kuda itu kembai, dan dibelakangnya muncul dua belas ekor kuda liar, yang dibawanya pulang. Anak laki-laki tua itu buru-buru menutup pintu pagar dan menuju tanah lapang tempat kuda itu merumput. Kuda mereka tidak hanya seekor, tapi memiliki tiga belas kuda.

Para tetangga menatap lapangan keesokan paginya dan berkata, “Mujur sekali nasibmu-sekarang memiliki tiga belas ekor kuda.”

“Mengapa kalian berkata seperti itu?” sahut sang pria tua. “Siapa yang dapat menentukan apakah itu nasib mujur?”

Tak lama kemudian, anak laki-laki sang pria tua pergi menunggang seekor kuda liar tersebut untuk menjinakkannya. Saat anak laki-laki itu berada di punggung kuda, kuda itu berontak dan menjatuhkan anak laki-laki itu sehingga kakinya patah.

Para tetangga berdatangan menyatakan simpati pada pria tua dan anak laki-lakinya. “Betapa sial nasibmu,” kata mereka, “karena kini anak laki-lakimu patah kaki.”

“Mengapa kalian berucap seperti itu?” sahut pria tua. “Siapa yang dapat mengatakan ini nasib sial?”

Dan benar saja, tak lama kemudian, anggota tentara kerajaan mendatangi desa itu, merekrut semua pria muda bertubuh sehat untuk ikut berperang. Semua orang tahu, peperangan itu sebagian besar akan kehilangan nyawa. Namun ketika melihat anak laki-laki si pria tua berbaring di sana dengan kaki patah, mereka melewatinya dan berlalu.

“Betapa mujur dirimu,” kata para tetangga. Pria tua itu hanya tersenyum.[Haidi]

POHON ABADI



Sebatang pohon kecil tumbuh di hutan. Saat pohon kecil itu bertambah tinggi dan kuat, ia mulai menyadari luasnya langit yang membentang di atasnya. Ia melihat awan putih berarak di langit, seakan tengah melakukan perjalanan luar biasa. Ia memperhatikan burung-burung yang terbang berputar di atasnya.

Langit, awan, burung yang terbang-mereka semua seolah berbicara tentang tanah keabadian. Seiring pertumbuhannya, pohon itu semakin menyadari semua mahluk abadi ini, dan keinginannya sendiri untuk dapat hidup abadi semakin kuat.

Suatu hari, jagawana kebetulan berjalan di dekat si pohon kecil. Ia pria baik, dan merasakan pohon kecil tidak benar-benar bahagia. “Ada apa, pohon kecil?” tanyanya. “Apa yang membuat jiwamu resah?”

Pohon kecil ragu-ragu, lalu menceritakan pada jagawana tentang keinginan mendalam di lubuk hatinya: “Aku ingin sekali dapat hidup abadi.”

“Mungkin kau akan abadi,” sahut jagawana. “Mungkin.”

Waktu berlalu, dan sekali lagi jagawana melewati pohon kecil, yang kini sudah tumbuh tinggi dan kuat.

“Apakah kau masih ingin abadi?” tanyanya pada pohon.

“Oh, ya, aku masih ingin abadi,” jawab pohon bersungguh-sungguh.

“Kurasa aku dapat membantumu, tapi pertama-tama kau harus mengizinkanku menebangmu.”

Pohon terperanjat. “Aku ingin hidup selamanya. Dan kau malah berkata kau ingin membunuhku?”

“Aku tahu,” sahut jagawana. “Kedengarannya gila. Tapi kalau kau memercayaiku, aku janji keinginan terdalammu akan terwujud.”

Setelah memikirkan masak-masak, akhirnya pohon pun setuju. Jagawana datang membawa kapaknya yang tajam. Pohon itu pun tumbang. Air kehidupan mengalir darinya dan lenyap diserap tanah hutan. Kayu yang lembut itu diiris tipis. Irisan itu dihaluskan, dibentuk, dan dipoles vernis yang menyesakkan. Pohon menjerit dalam hati karena penderitaannya, tetapi ia tidak mungkin kembali. Ia memasrahkan diri ke tangan pembuat biola, dan semua impian akan keabadian lenyap dalam kabut kesakitan.

Selama bertahun-tahun, biola terbaring tak tersentuh. Terkadang, pohon itu mengenang masa-masa bahagia, ketika ia masih tumbuh di hutan. Sungguh kesepakatan yang buruk, menyerahkan diri pada kapak si penjaga hutan. Bagaimana mungkin ia begitu naif hingga memercayai hal ini akan dapat membuatnya hidup abadi?

Namun hari itu akhirnya tiba-pada waktu yang tepat dan sempurna-ketika biola itu diangkat dari kotaknya dengan lembut dan sekali lagi dibelai oleh tangan yang penuh cinta. Pohon menahan napas tak percaya. Ia bergetar saat busur dengan lembut menggesek dadanya. Dan getaran itu berubah menjadi suara murni yang mengingatkannya pada angin yang pernah membuat daun-daunnya kemersik, pada awan yang berarak pergi menuju keabadian, pada kepak sayap burung di atasnya, membentuk lingkaran keabadian di langit biru.
Suara yang murni, nada-nada yang murni. Musik Keabadian.

“Kayuku telah berubah menjadi musik!” pekik pohon jauh dalam lubuk hatinya. “Jagawana mengatakan yang sebenarnya.”

Dan musik itu pun bergema, dari hati yang satu ke hati lain yang mendengarkan, turun-temurun selama bertahun-tahun hingga akhirnya, ketika semua hati yang mendengarkan telah melakukan perjalanan pulang, musik tersebut mengalir memasuki gerbang keabadian, tempat pohon kecil menjadi Pohon Abadi. [Margeret Silf]

RAJA--PENGEMIS



Alkisah hiduplah raja yang tidak memiliki putra dan sangat mendambakan penerus yang akan mewarisi takhtanya. Maka raja pun memasang pengumumamn mengundang para pemuda dan anak-anak mendaftarkan diri untuk diangkat ke dalam keluarganya dan dijadikan penerus takhta kerajaan. Satu-satunya syarat yang ia tuntut dari pelamar adalah mereka harus mencintai Tuhan dan sesama.

Seorang anak laki-laki miskin melihat pengumuman itu, tetapi ia berpikir takkan memiliki kesempatan untuk diangkat anak oleh raja karena baju compang-camping yang dipakainya. Maka ia pun bekerja keras, sampai ia mendapatkan cukup uang untuk membeli baju. Mengenakan baju baru yang lebih besar dari ukuran tubuhnya, ia berangkat ke istana untuk melamar menjadi putra angkat raja.

Ketika berjalan menuju istana, ia bertemu pengemis di jalan. Pengemis itu mengigi kedinginan. Dan anak itu merasa iba hingga akhirnya menukar bajunya dengan baju si pengemis.

Ketika ia mengenakan baju si pengemis yang compang camping, ia berpikir percuma pergi ke istana. Namun, karena sudah menempuh perjalanan jauh, anak itu memutuskan meneruskan perjalanan ke istana. Ia berpikir setidak-tidaknya akan melihat istana dari luar.

Setiba di istana, ia disambut tawa sinis dan ejekan pegawai istana. Tapi ia tetap diizinkan menghadap raja.
Ada yang sangat familier tentang raja. Mulanya anak itu tidak tahu apakah itu, dan mengapa ia merasa begitu nyaman di hadapan raja. Lalu ia menyadari bahwa raja mengenakan pakaian yang ia berikan kepada pengemis beberapa jam lalu di jalanan.

Raja turun dari singgasananya dan merangkul anak itu, “Selamat datang, putraku,” katanya.[*]

Jumat, 27 April 2012



CUCI TANGAN SEBELUM MAKAN



        Seekor burung sedang mencari makan, meloncat dari ranting satu ke ranting lainnya, tidak lagi memperhatikan sekitarnya.

      Perlahan seekor kucing juga sedang mencari makan, perlahan sekali si kucing melangkah, hingga tidak terdengar oleh burung yang sedang sibuk mencari makan.

          Pada saat yang tepat, kucing menerkam, si burung tidak sempat menghidar.

Dengan gagahnya kucing membawa hasil buruannya ke bawah sebuah pohon.
“Ini makan siang ku.” ujar si kucing.

Si burung hanya bisa mencicit, ingin melepaskan cengkraman si kucing.
“Tuan Kucing,”  kata si burung. “Sebelum makan, Tuan harus berdoa dan cuci tangan dulu.”

          Mendengar itu, si kucing mengangguk. Ia teringat pesan ibunya, kemudian si kucing memandang ke atas dan berdoa, setelah itu ia menjilati tangannya.

          Begitu melihat ke samping, betapa terkejutnya si kucing, karena burung telah bertengger di ranting pohon. [Haidi : 12.12.2011]







TUMENGGUNG ANAI-ANAI

    Tidak jauh dari pohon asam terdapat sebuah negara. Wilayahnya sangat luas. Tingginya tidak kurang dari ukuran tubuh orang dewasa. Panjang dan lebar lebih satu depa. Itulah negara raksasa dari kolone anai-anai dalam sebuah temposo.
              Wilayah yang sangat luas itu dibagi atas beberapa kawasan, seperti halnya Indonesia, yang terdiri beberapa provinsi, kabupaten hingga desa dan RT. Masing-masing wilayah juga dikepalai oleh seorang pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyatnya. Hanya sedikit berbeda pada tingkat kecamatan dan kelurahan. Dalam negeri temposo, pemimpin wilayahnya langsung dipilih oleh rakyat anai-anai itu sendiri.
             Pada gerbang yang menghadap pohon asam, sebuah wilayah yang langsung dipimpin seorang tumenggung, setingkat walikota. Inilah daerah yang terkenal dengan sumber daya alamnya berlimpah. Gedung tinggi menjulang. Pohon-pohon besar tumbuh subur di tepi jalan. Pemimpinnya terkenal merakyat dan bijak.
                                                                                   ~~
                Sore itu tumenggung anai-anai duduk di kursi goyang di teras rumahnya yang megah. Seorang laki-laki datang tergopoh-gopoh memasuki pintu gerbang, dan langsung berlutut dihadapan tumenggung.
“Mohon ampun, Tumenggung,” katanya, “nama saya Fantris, mohon keadilan dari Tumenggung.”
“Ya, ada apa? Ceritakan masalahmu.” sahut tumenggung, tenang.
Fantris menceritakan masalah yang menimpa istrinya. Saat istrinya sedang menuju pasar dengan motor barunya. Sebuah mobil menambrak dari belakang, sehingga istrinya tewas di tempat kejadian.
“Jika begitu, bawa ke sini sopir itu.” kata tumenggung.
                Tidak terlalu lama, sang sopir sudah dibawa menghadap tumenggung. Ia sudah mengerti kesalahannya. Namun ia juga tak ingin sepenuhnya disalahkan.
“Benarkah kamu telah menabrak seorang wanita dengan mobilmu sampai wanita itu meninggal di tempat kejadian?” tanya tumenggung.
“Benar, Tumenggung,” sahutnya, “tapi itu murni kecelakaan dan bukan sepenuhnya kesalahan saya.”
“Mengapa begitu?” tanya tumenggung.
“Saya mengemudikan mobil sesuai kecepatan yang tertulis di rambu lalu lintas,” katanya, “namun saat itu ada seorang pengguna kursi roda di badan jalan. Saya menghindarinya, tanpa sengaja tertabrak pengemudi motor yang juga menghindari pengguna kursi roda itu.”
Tumenggung anai-anai mengangguk dan terlihat berpikir. “Jika begitu, panggil pengguna kursi roda itu.” perintah tumnggung pada bawahannya.
             Pasukan reaksi cepat segera bergerak. Dalam waktu singkat pengguna kursi roda dibawa ke hadapan tumenggung.
“Siapa namamu?”  tanya tumenggung, “Mengapa kamu menggunakan kursi roda di badan jalan.”
“Ampun, Tumenggung,” sahutnya, “nama saya, Brain Santo. Saya memang salah, karena menggunakan badan jalan dengan kursi roda. Tapi itu saya lakukan bukan kemauan saya sendiri.”
“Mengapa?” tanya tumenggung.
“Trotoar pejalan kaki terlalu sempit untuk dua kursi roda berselisih,” kata Brain, “selain itu, kursi roda saya tidak dapat menjalani trotoar yang bertingkat seperti tangga. Saya tidak bisa melaluinya ketika akan naik atau turun dari trotoar itu.”
                Lagi-lagi tumenggung terdiam. Ia terlihat berpikir. Ini kesalahan Dinas Jalan Raya.” bisiknya dalam hati. “Cepat panggil Kepala Dinas Jalan Raya.” katanya.
Tanpa banyak membuang waktu. Kepala Dinas Jalan Raya langsung menuju kediaman temenggung. Mobil mewahnya meluncur mulus menerobos keramaian kota.
“Lapor, Kepala Dinas Jalan Raya, menghadap.” katanya.
“Ya! Bagus.” sahut tumenggung, “mengapa trotoar untuk pejalan kaki di kota ini dibuat sempit sehingga tidak cukup untuk dua kursi roda berselisih. Dan mengapa dibuat bertingkat, sehingga tidak bisa dilalui pengguna kursi roda?”
                Kepada Dinas Jalan Raya tidak langsung menjawab. Ia terlihat ragu atau takut. Matanya melirik orang-orang di kiri kanannya, bahkan sempat menoleh ke belakang. Sambil membungkuk, ia mendekat pada tumenggung dan berbisik. “Dana untuk itu kurang. Sesuai perintah Tumenggung, 20% untuk kampanye kemenangan Tumenggung.” [Haidi : 16.04.2012]

Sabtu, 21 April 2012


KISAH SI ANAK DUNGU

http://3.bp.blogspot.com/-3n9WRIjOsdU/T0eyz_NEhkI/AAAAAAAAAK4/hVoqVQhfYNg/s200/Anak+Cerdas.jpg
                  Kisah ini terjadi di lokasi pemukiman Komunitas Adat Terpencil, Tintang Mapulu, masih berada di wilayah Kecamatan Karangan. Saat itu, Apei berusia hampir tujuh tahun. Ia tidak sekolah, tidak bisa membaca dan menulis. Ia dikenal sebagai anak bodoh, tidak mengerti apa-apa. Tidak jarang teman sepermainannya menipu dengan berbagai kecurangan. Tapi ia tidak pernah marah, dengan lugunya ia tetap bermain walau selalu kalah. Bahkan orang dewasa juga menganggapnya sebagai anak yang dungu.
~o~
                Saat itu musim hujan, pagi sekali ia sudah berjalan tanpa alas kaki, di tengah gerimis masih membasahi jalan.Parang kecil tanpa gagang di tangannya dan sebuah kantong plastik hitam di tangan kirinya. Entah apa yang dilakukannya dekat pintu gerbang perumahan tersebut, berjongkok dan menggali tanah. Tidak lama setelah itu ia berpindah ke sisi jalan sebelahnya, setelah menancapkan kayu kecil tidak lebih tinggi dari kepalanya.
Kemudian ia pergi ke bagian ujung perumahan, kurang lebih 300 meter dari tempatnya semula. Ia melakukan hal yang sama. Saat itu Ketua Adat melihat tingkah Apei.
“Apei, cepat pulang, nanti kamu demam.” teriak ketua adat.
“Ya, Tua, sebentar lagi.” sahut Apei.
Ia beranjak pergi dari tempatnya berjongkok, melalui rumah ketua adat.
“Apa yang kamu kerja di situ, Pei?” tanya Ketua Adat.
Anu, Tua, nanam biji wanyi.” sahut Apei.
“Apa!” kata ketua adat, “nanam wanyi!”
“Ya, Tua, supaya tidak jauh lagi nanti ngambil wanyi di hutan.” sahut Apei, mencuci tangannya dengan air dari tetesan atap dan pergi tanpa peduli lagi pada ketua adat tersebut.
“Ada-ada saja kamu, Pei, mana kamu sempat makan buah wanyi itu, lebih dahulu kamu mati, barulahwanyi itu berbuah.” guman si ketua adat.
~o~
                Keesokan harinya, bersama teman-teman sepermainannya, Apei bermain di lapangan yang masih berair dan becek, itu membuat mereka semakin bersemangat bermain bola. Tidak jauh dari tempat bermain tersebut, ada sebuah kubangan lumpur yang cukup dalam di jalan. Sejak anak-anak bermain, sudah tiga orang bermotor melintasi kubangan tersebut. Dua orang terjatuh dan satu orang lolos terseok-seok.
Saat itu, Apei sebagai penjaga gawang, begitu saja meninggalkan gawang tanpa penjagaan. Ia berlari menuju rumah Pak Muis, rumah terdekat dari tempat mereka bermain. Teman-teman bermainnya sangat kecewa melihat tingkah Apei.
“Apei, kamu mau ke mana?” teriak temannya.
Walau kecewa, tapi mereka tidak marah, karena mereka memandang Apei orang yang dungu dan bodoh.
“Tunggu sebentar.” teriak Apei, ia berlari.
Tiba di rumah Pak Muis, “Tua, pinjam cangkul.” katanya.
Belum lagi Pak Muis berkata, Apei telah memikul cangkul dan berlari menuju teman-temannya.
“Pei, untuk apa kamu bawa cangkul?” tanya temannya.
Ia tidak menjawab, hanya meletakan cangkul di tengah jalan dekat kubangan lumpur dan ia kembali bermain bola sebagai penjaga gawang.
Selama mereka bermain, sudah empat orang bermotor melintasi kubangan lumpur itu, dua di antaranya jatuh. Tapi tidak satu orang pun yang menyentuh cangkul di tengah jalan itu.
~o~
Wanyi : nama jenis pohon/buah  
Tua  : paman

Jumat, 20 April 2012


BERSAING DAN BERTEMAN


Tiga putaran Pemilu sebelum tahun sekarang, di Sangatta hanya ada dua orang yang membuka usaha potong rambut. Akhmad dari Banjarmasin dan Irfan dari Pamekasan. Mereka saling kenal, walau tidak benar-benar mengenal. Usaha mereka cukup maju dan bersaing ketat.

Waktu itu sepuluh hari menjelang Idul Fitri, pengunjung di tempat Akhmad meningkat lebih dua kali lipat dari biasanya. Uang begitu mudah masuk ke laci meja potong rambutnya. Selama tujuh hari ia melayani pengunjung, hingga harus lembur sampai malam.

Akhmad mendengar kabar, saingan usahanya, Irfan sedang sakit, sehingga harus menutup sementara usahanya. Hari itu tiga hari menjelang Idul Fitri, Akhmad mengenakan setelan batik terbaiknya mengunjungi Irfan di rumahnya yang masih dalam masa penyembuhan. Ia memasukan semua uang pendapatan lembur selama tujuh hari ke dalam anplop.

Tidak lama ia berada di rumah Irfan, karena ia khawatir mengganggu istirahatnya. Saat akan pergi, Akhmad menyerahkan anplop, “Ini ada uang dari pelangganmu, Kawan.” Menyerahkan anplop dengan kedua tangannya ke tangan saingan usahanya, “Cepatlah sembuh, Kawan, kita semua merasa kehilangan!” Dengan senyum cerah dan jabat tangan erat, Akhmad meninggalkan rumah Irfan. [Haidi]