Sabtu, 09 Februari 2013

NASIB MUJUR ATAUKAH SIAL?



Dahulu sewaktu saya masih anak-anak-sebelum tidur, hampir tiap malam Nenek menuturkan berbagai dongeng. Misalnya seperti ini:

Dahulu kala ada pria tua yang memiliki seorang anak laki-laki dan seekor kuda. Suatu hari, kudanya lepas lari ke perbukitan.

Tetangga pria itu bersimpati padanya. “Betapa sial nasibmu karena kehilangan kudamu,” kata mereka.

“Mengapa kalian berkata begitu?” jawab sang pria tua. “Siapa yang dapat memutuskan apakah itu nasib sial?”

Keesokan harinya kuda itu kembai, dan dibelakangnya muncul dua belas ekor kuda liar, yang dibawanya pulang. Anak laki-laki tua itu buru-buru menutup pintu pagar dan menuju tanah lapang tempat kuda itu merumput. Kuda mereka tidak hanya seekor, tapi memiliki tiga belas kuda.

Para tetangga menatap lapangan keesokan paginya dan berkata, “Mujur sekali nasibmu-sekarang memiliki tiga belas ekor kuda.”

“Mengapa kalian berkata seperti itu?” sahut sang pria tua. “Siapa yang dapat menentukan apakah itu nasib mujur?”

Tak lama kemudian, anak laki-laki sang pria tua pergi menunggang seekor kuda liar tersebut untuk menjinakkannya. Saat anak laki-laki itu berada di punggung kuda, kuda itu berontak dan menjatuhkan anak laki-laki itu sehingga kakinya patah.

Para tetangga berdatangan menyatakan simpati pada pria tua dan anak laki-lakinya. “Betapa sial nasibmu,” kata mereka, “karena kini anak laki-lakimu patah kaki.”

“Mengapa kalian berucap seperti itu?” sahut pria tua. “Siapa yang dapat mengatakan ini nasib sial?”

Dan benar saja, tak lama kemudian, anggota tentara kerajaan mendatangi desa itu, merekrut semua pria muda bertubuh sehat untuk ikut berperang. Semua orang tahu, peperangan itu sebagian besar akan kehilangan nyawa. Namun ketika melihat anak laki-laki si pria tua berbaring di sana dengan kaki patah, mereka melewatinya dan berlalu.

“Betapa mujur dirimu,” kata para tetangga. Pria tua itu hanya tersenyum.[Haidi]

POHON ABADI



Sebatang pohon kecil tumbuh di hutan. Saat pohon kecil itu bertambah tinggi dan kuat, ia mulai menyadari luasnya langit yang membentang di atasnya. Ia melihat awan putih berarak di langit, seakan tengah melakukan perjalanan luar biasa. Ia memperhatikan burung-burung yang terbang berputar di atasnya.

Langit, awan, burung yang terbang-mereka semua seolah berbicara tentang tanah keabadian. Seiring pertumbuhannya, pohon itu semakin menyadari semua mahluk abadi ini, dan keinginannya sendiri untuk dapat hidup abadi semakin kuat.

Suatu hari, jagawana kebetulan berjalan di dekat si pohon kecil. Ia pria baik, dan merasakan pohon kecil tidak benar-benar bahagia. “Ada apa, pohon kecil?” tanyanya. “Apa yang membuat jiwamu resah?”

Pohon kecil ragu-ragu, lalu menceritakan pada jagawana tentang keinginan mendalam di lubuk hatinya: “Aku ingin sekali dapat hidup abadi.”

“Mungkin kau akan abadi,” sahut jagawana. “Mungkin.”

Waktu berlalu, dan sekali lagi jagawana melewati pohon kecil, yang kini sudah tumbuh tinggi dan kuat.

“Apakah kau masih ingin abadi?” tanyanya pada pohon.

“Oh, ya, aku masih ingin abadi,” jawab pohon bersungguh-sungguh.

“Kurasa aku dapat membantumu, tapi pertama-tama kau harus mengizinkanku menebangmu.”

Pohon terperanjat. “Aku ingin hidup selamanya. Dan kau malah berkata kau ingin membunuhku?”

“Aku tahu,” sahut jagawana. “Kedengarannya gila. Tapi kalau kau memercayaiku, aku janji keinginan terdalammu akan terwujud.”

Setelah memikirkan masak-masak, akhirnya pohon pun setuju. Jagawana datang membawa kapaknya yang tajam. Pohon itu pun tumbang. Air kehidupan mengalir darinya dan lenyap diserap tanah hutan. Kayu yang lembut itu diiris tipis. Irisan itu dihaluskan, dibentuk, dan dipoles vernis yang menyesakkan. Pohon menjerit dalam hati karena penderitaannya, tetapi ia tidak mungkin kembali. Ia memasrahkan diri ke tangan pembuat biola, dan semua impian akan keabadian lenyap dalam kabut kesakitan.

Selama bertahun-tahun, biola terbaring tak tersentuh. Terkadang, pohon itu mengenang masa-masa bahagia, ketika ia masih tumbuh di hutan. Sungguh kesepakatan yang buruk, menyerahkan diri pada kapak si penjaga hutan. Bagaimana mungkin ia begitu naif hingga memercayai hal ini akan dapat membuatnya hidup abadi?

Namun hari itu akhirnya tiba-pada waktu yang tepat dan sempurna-ketika biola itu diangkat dari kotaknya dengan lembut dan sekali lagi dibelai oleh tangan yang penuh cinta. Pohon menahan napas tak percaya. Ia bergetar saat busur dengan lembut menggesek dadanya. Dan getaran itu berubah menjadi suara murni yang mengingatkannya pada angin yang pernah membuat daun-daunnya kemersik, pada awan yang berarak pergi menuju keabadian, pada kepak sayap burung di atasnya, membentuk lingkaran keabadian di langit biru.
Suara yang murni, nada-nada yang murni. Musik Keabadian.

“Kayuku telah berubah menjadi musik!” pekik pohon jauh dalam lubuk hatinya. “Jagawana mengatakan yang sebenarnya.”

Dan musik itu pun bergema, dari hati yang satu ke hati lain yang mendengarkan, turun-temurun selama bertahun-tahun hingga akhirnya, ketika semua hati yang mendengarkan telah melakukan perjalanan pulang, musik tersebut mengalir memasuki gerbang keabadian, tempat pohon kecil menjadi Pohon Abadi. [Margeret Silf]

RAJA--PENGEMIS



Alkisah hiduplah raja yang tidak memiliki putra dan sangat mendambakan penerus yang akan mewarisi takhtanya. Maka raja pun memasang pengumumamn mengundang para pemuda dan anak-anak mendaftarkan diri untuk diangkat ke dalam keluarganya dan dijadikan penerus takhta kerajaan. Satu-satunya syarat yang ia tuntut dari pelamar adalah mereka harus mencintai Tuhan dan sesama.

Seorang anak laki-laki miskin melihat pengumuman itu, tetapi ia berpikir takkan memiliki kesempatan untuk diangkat anak oleh raja karena baju compang-camping yang dipakainya. Maka ia pun bekerja keras, sampai ia mendapatkan cukup uang untuk membeli baju. Mengenakan baju baru yang lebih besar dari ukuran tubuhnya, ia berangkat ke istana untuk melamar menjadi putra angkat raja.

Ketika berjalan menuju istana, ia bertemu pengemis di jalan. Pengemis itu mengigi kedinginan. Dan anak itu merasa iba hingga akhirnya menukar bajunya dengan baju si pengemis.

Ketika ia mengenakan baju si pengemis yang compang camping, ia berpikir percuma pergi ke istana. Namun, karena sudah menempuh perjalanan jauh, anak itu memutuskan meneruskan perjalanan ke istana. Ia berpikir setidak-tidaknya akan melihat istana dari luar.

Setiba di istana, ia disambut tawa sinis dan ejekan pegawai istana. Tapi ia tetap diizinkan menghadap raja.
Ada yang sangat familier tentang raja. Mulanya anak itu tidak tahu apakah itu, dan mengapa ia merasa begitu nyaman di hadapan raja. Lalu ia menyadari bahwa raja mengenakan pakaian yang ia berikan kepada pengemis beberapa jam lalu di jalanan.

Raja turun dari singgasananya dan merangkul anak itu, “Selamat datang, putraku,” katanya.[*]

Sabtu, 12 Januari 2013

[Cerita Anak] SEPATU BARU UNTUK MURNI



            Sudah butut, jebol pula. Lengkaplah penderitaan Murni menerima olok-olok dari teman sekolahnya. Mau tak mau, Murni tetap memakai terus sepatu itu ke sekolah. Sebab hanya sepatu itulah satu-satunya yang dimiliki.
            Hanya Dewi yang tidak ikut-ikutan mengolok-olok Murni. Dewi malah ingin membantu Murni agar tidak diejek lagi. Diam-diam Dewi menyisihkan sebagian uang jajannya. Ketika dirasa cukup, Dewi mengajak Murni ke toko sepatu.
            “Kau mau beli sepatu, ya?” tanya Murni heran. “Sepatumu, kan, masih kelihatan baru!”
            “Aku cuma mau lihat-lihat, kok.” Elak Dewi.
            Sesampai di toko sepatu itu, Murni tertegun sejenak. Ia memandangi deretan sepatu terpajang di etalase toko. Bagus-bagus semua. “Senangnya jika aku bisa memiliki salah satu sepatu yang ada di sini,” batin Murni.
            “Ni, bantu aku dong! Tolong pilih sepatu yang cocok untukku,” pinta Dewi.
            “Semua bagus-bagus, Wi. Aku bingung mencarikan sepatu yang cocok untukmu.”
            Mereka masih berkeliling mengitari toko sambil memilih-milih sepatu yang cocok.
            “Sudah ketemu yang cocok belum, Ni?” tanya Dewi.
            “E... kalau aku, sih, suka yang itu,” kata Murni sambil menunjuk sepatu berwarna cokelat muda.
            Dewi meminta penjaga toko menurunkan sepatu dimaksud.
            “Menurutmu ini bagus?” tanya Dewi.
            “Iya! Menurutku, ini memang bagus. Kalau aku punya uang, pasti kubeli,” kata Murni lirih.
            “Coba kamu pakai. Aku mau lihat!” kata Dewi.
            “Lho... kan kamu yang mau beli. Kamu harus coba sendiri, dong, Wi!” kata Murni polos.
“Oke, deh,” Dewi mencobanya. Ukuran kakinya pas dengan ukuran sepatu itu. “Wah, pas ya, di kakiku!”
Murni hanya mengangguk.
“Coba sekarang kamu yang pakai!” kata Dewi. “Aku cuma mau melihat.”
Meskipun bingung, Murni mencoba juga sepatu itu. “Pas!” serunya pelan. “Ternyata ukuran kaki kita sama, Wi!”
“Wah, iya ya! Sepatu ini cocok juga untukmu. Coba kamu pakai berjalan, sakit tida?” kata Dewi tak lepas senyum.
“Agak sakit!” kata Murni sambil berjalan mondar-mandir.
“Itu karena masih baru. Kamu suka?”
“Suka banget, Wi,” sahut Murni.
“Ya sudah, sekarang lepas deh sepatu itu,” kata Dewi.
Dewi lalu membeli sepasang kaus kaki. Kemudian membawa barang-barang itu ke kasir.
Meski sedih, Murni sedikit terhibur juga. Paling tidak, ia sudah mencoba sepatu baru. Walaupun bukan miliknya.
“Sekarang, ayo kita pulang. Tolong bawakan, ya,” kata Dewi sambil menyerahkan kantong plastik berisi kardus sepatu.
Di perjalanan pulang, Murni terus melamun. “Ah, andai sepatu ini untukku, aku pasti akan senang sekali.” Bisiknya.
“Nah, sudah sampai di rumahku. Sampai ketemu besok ya, Murni.”
“E... eh, sepatumu!” kata Murni yang baru ingat kalau ia masih menenteng kantong plastik milik Dewi.
“Itu sepatumu, Ni! Besok dipakai, ya! Kaos kakinya jangan lupa dipakai juga, biar kakimu tidak lecet,” kata Dewi sambil tersenyum geli.
“Se... sepatu ini untukku?” kata Murni. “Jangan bercanda, Wi!”
Dewi mengangguk. “Aku tidak bercanda, Ni. Itu memang sepatu dan kaus kaki untukmu. Sekarang cepatlah pulang, sebelum hujan turun.” Kata Dewi.
“Terima kasih, Wi! Aku benar-benar tidak menyangka. Aku janji besok akan memakainya!” seru Murni gembira. “Terima kasih ya, Wi... kamu temanku yang paling perhatian...” Murni memeluk Dewi dengan mata berkaca-kaca.
“Iya, iya. Cepatlah pulang! Nannti kamu basah kuyup kehujanan!” kata Dewi tanpa sadar air mata membasahi pipinya.[xxxvi:2009]

Sabtu, 01 Desember 2012

SANDAL JEPIT [Cerpen] Haidi


SANDAL JEPIT
[Haidi]
        Deri Handari, bekerja pada sebuah perusahaan penyalur cat. Walau masih muda dan tampan ia tak malu-malu bekerja sebagai kuli angkut. Hidup di rantau tak pantas membanggakan pangkat dan keturunan orang tua. Begitu sering ia ucapkan dan ia laksanakan dalam kesehariannya. Orang tuanya memang berdarah bangsawan, gelarnya sangat dihormati. Namun itu di tanah kelahirannya sana. Tentu saja kebangsawanan tersebut tak berlaku ditempatnya sekarang berada. Dia berprinsip, seseorang akan dihormati apabila menghormati orang lain. Di mana pun bekerja dan apa saja pekerjaannya, selama tidak merugikan orang lain dan halal tentu lebih baik daripada pengangguran.
            Deri bukan lelaki genius dan sangat cerdas, boleh dikatakan sedikit pelupa. Kekeliruan kecil sering terjadi. Ia sangat menyadari hal itu sebagai satu dari sekian banyak kekurangannya. Karena kekurangan itu pula ia selalu menambahkan doa agar selalu dikuatkan ingatan. “Ya Allah. Engkau tak pernah lupa pada setiap hambaMu. Hanya engkaulah yang mampu menguatkan ingatan. Tuntunlah hambaMu ini agar tak pernah lupa dan tak pernah melupakanMu.” Begitu doa yang selalu ditambahkannya setiap selesai salat.
            Karena sering kali lupa hal-hal kecil itulah ia selalu berusaha untuk tak pernah lupa. Namun justru sering kali terjadi. Pernah pada suatu ketika ia lupa arah pulang. Saat itu ia pulang dari Kota Samarinda. Tiba di terminal bus ia tak langsung menuju rumah, tapi menuju warung makan. Bukan karena lapar, tapi hanya teringat nasi pecel kesukaannya tak jauh dari terminal. Sampai di warung pecel barulah ia sadar bahwa tujuannya bukan ke tempat itu. Tapi telah terlanjur duduk dan memesan makanan. Untuk menutupi malu ia meneruskan makan dan membayar seolah tak terjadi apa-apa. Selesai makan ia meninggalkan warung.
            “Mas! Mas, tasnya ketinggalan.” Teriak si pemilik warung.
Padahal ia cukup jauh meninggalkan warung pecel. Beberapa orang mendengar teriakan si pemilik warung juga memanggilnya dengan tepukan tangan. Barulah ia teringat ranselnya tertinggal di warung pecel.
“Wah, masih muda kok sudah pelupa, Mas.” Kata si pemilik warung.
“Iya, Bu.” Sahut Deri. “Tadi rasanya buru-buru sampai lupa.”
~
Begitulah Deri. Hal seperti itu bukan sekali dua terjadi. Kali ini pun terjadi lagi. Ia benar-benar lupa memakai sepatu safety saat selesai salat Zuhur di mushola. Sandal jepit yang tadi dikenakannya saat berwudu langsung dipakai. Sedangkan sepatu tertinggal di mushola. Tiba di tempat kerja, ia pun melanjutkan pekerjaan memindahkan kaleng-kaleng cat dari gudang ke mobil boks.
Saat itu tanpa sengaja tubuhnya menyenggol tumpukan kaleng cat. Sekaleng cat isi 5 kg menimpa kakinya tanpa sempat menghindar. Tanpa sadar ia menjerit dan melompat-lompat berputar dengan satu kaki sambil memegang jari kakinya. Jempol kaki kanan hingga jari tengah bengkak seketika. Saat itu barulah ia teringat sepatu. Rasa sakit sedikit berkurang ia pun mengambil sepatu di mushola. Menukarnya dengan sandal jepit. Hari itu ia masih mampu melanjutkan pekerjaan setelah mengenakan sepatu sambil terpincang-pincang. Malam harinya ia hampir tak dapat tidur menahan sakit. Kakinya semakin bengkak. Walau tak ada luka namun gumpalan darah beku terlihat kehitaman.
Hari berikutnya ia tak dapat menggerak tiga jari kaki juga tak bisa memakai sepatu. Susah payah ia pergi ke klinik. Kondisi sakit begitulah ia teringat orang tuanya dan saudara-saudaranya di tanah kelahiran sana. Namun semua tak bisa menolong karena terpisah jauh. Justru tetangga terasa bagai dewa penolong, bersedia mengantar ke klinik dengan sebuah motor tanpa harus membayar bahkan tanpa diminta. Ia merasa pertolongan tetangga lebih bernilai daripada segepok uang ataupun segenggam emas, bahkan merasa lebih menyayangi daripada ibu yang melahirkannya.
Surat keterangan dari dokter ia kirim kepada pimpinan tempatnya bekerja melalui seorang teman sesama kuli angkut.
“Terima kasih, Mas Marson telah berkenan membawakan surat izin saya.” Kata Deri.
“Iya, semoga lekas sembuh,” sahut Marson. “Surat ini akan saya sampaikan.”
Tiga hari istirahat belum cukup memulihkan bengkak kakinya. Ia pun menambah waktu libur untuk memulihkan bengkak dan sakit jari kakinya. Genaplah enam hari ia tidak bekerja ditambah satu hari karena memang hari libur. Hari ketujuh ia mencoba mengenakan sepatu dan mondar-mandir berjalan merasakan sakit jari kakinya. “Rasanya sudah lebih baik. Aku bisa bekerja lagi.” Katanya sendiri. Deri pun berangkat ke tempatnya bekerja.
Tiba di tempat kerja. Rencana akan melapor pada pimpinan bagai telah direncanakan. Orang yang bertugas layaknya asisten pimpinan memanggilnya.
“Deri, kamu ke ruangan sebentar.” Katanya saat melihat Deri.
“Siap, Bu.” Sahut Deri mengikuti langkah wanita itu.
Deri duduk di depan meja sang asisten. Wanita itu menarik laci mengeluarkan sebuah map merah kemudian menarik dua buah amplop surat di dalamnya.
“Ini surat pemberhentianmu,” katanya menyodorkan sebuah amplop. “Ini uang gaji bulanan ditambah uang lembur.”
Tanpa bertanya, Deri menerima kedua amplop tersebut. Tangannya sedikit gemetar saat membuka amplop pertama dan membacanya.
“Oh, jadi saya diberhentikan sekarang.” Kata Deri dengan wajah kecewa.
“Maaf, Deri,” sahut wanita itu. “Saya hanya menyampaikan surat, keputusan ada pada pimpinan.”
“Iya, tidak apa-apa, Bu,” sahut Deri. “Saya mengerti.”
“Kamu masih muda, semoga memperoleh pekerjaan yang lebih layak. Masa sih terus-terus mau jadi kuli angkut?” kata wanita itu.
“Terima kasih, Bu,” sahut Deri berdiri dan meninggalkan ruangan.
Ada perasaan sedih karena kehilangan pekerjaan, itu sama artinya ia harus mencari pekerjaan lain. Walau ia juga membenarkan ucapan wanita itu.
“Benar juga. Aku harus cari pekerjaan yang lebih ringan. Jika jadi kuli angkut terus, capek juga. Bisa-bisa aku mati sebelum menikah.” Bisiknya dalam hati.
Hari-hari berikutnya ia tak lagi sibuk bekerja tapi repot mencari pekerjaan. Seminggu dihabiskan mencari pekerjaan. Ada juga lelah bergantung dalam pikirannya saat malam tiba. “Maafkan aku wahai kakiku yang baik. Ini bukan salah sandal jepit itu. Bukan pula kesalahan si kaleng cat yang menimpamu. Ini semua murni kesalahan dan kelalaianku. Semoga kamu tak pernah menyesalinya. Mohon tidak menyalahkan sandal jepit itu. Maafkanlah dia. Tapi kita sama-sama berjanji. Jika nanti dapat pekerjaan lebih baik, kita akan membeli sandal jepit baru. Bukan hanya sepasang, tapi 99 pasang kita sumbangkan ke masjid atau langgar. Aku juga selalu berusaha melindungimu dengan sepatu supaya kita sama-sama tidak menderita.” Deri berucap pada kakinya sendiri seolah kaki itu pandai berbicara sambil memijit-mijit jari kaki yang pernah tertimpa kaleng cat. Tak lama ia pun tertidur.
Usahanya mencari pekerjaan membuahkan hasil. Ia diterima bekerja oleh seorang pengusaha roti. Pekerjaanya lebih ringan daripada kuli angkut. Tugasnya mengantar roti ke toko atau warung dengan sebuah motor. Tiap hari ia berkeliling gang dan lorong-lorong kecil hingga ke pojok Kota Sangatta. Sesekali ia berkhayal dalam perjalanan mengantar roti.
“Pekerjaanku sekarang lebih ringan daripada dulu. Tapi masih bekerja pada orang lain. Semoga saja suatu saat nanti mampu membuat lapangan kerja sendiri. Setidak-tidaknya aku mempunyai beberapa karyawan. Jika berharap gaji, kapan aku bisa menggaji orang lain.” Deri berbica pada dirinya sendiri, kadang diiringi sedikit senyum tipis dan buru-buru mengunci senyumnya khawatir ada orang memperhatikan dikira orang tak waras.
Sore itu kejadian yang tak pernah ia inginkan terulang lagi. Padahal terus berusaha dan berdoa agar tak terulang. Saat salat Asar di sebuah langgar cukup jauh dari tempatnya bekerja. Begitu keluar dari langgar ia langsung mengenakan sandal jepit. Ia pun dengan tenangnya meninggalkan langgar menuju tempatnya bekerja. Tiba di tempat kerja.
“Deri, kamu dipanggil Pak Salman.” Kata seorang temannya.
“Iya, terima kasih,” sahut Deri. “Ada apa kira-kira.”
“Ah, kamu. Lupa atau pura-pura lupa. Hari ini gajian.” Ucapnya tersenyum.
“Oh.” Guman Deri menuju ruang Pak Salman.
Tiba di ruang kerja Pak Salman. “Deri, masuk sini,” sapanya. “Hari ini tumben kamu pakai sandal jepit, biasanya selalu bersepatu safety.”
Seketika ia menatap kakinya. “Astagfurullah, ketinggalan di langgar.” Bisiknya dalam hati. “Maaf, Pak,” katanya. “Tadi buru-buru, sampai tertinggal di langgar.”
“Eh, macam-macam saja kamu,” sahut Pak Salman. “Apa tidak hilang ditinggal di sana?” sambil menyerahkan sebuah amplop. “Ini uang gajimu. Pergunakanlah sebaik-baiknya.”
“Terima kasih, Pak.” Sahut Deri.
Begitu keluar dari ruangan kerja Pak Salman, ia berpapasan dengan seorang teman wanita.
“Mas Deri, tumben hari ini tidak pakai sepatu.” Katanya.
“Iya, saya tadi lupa,” sahut Deri buru-buru melangkah. “Rupanya Allah mengingatkanku hari ini.” Bisiknya dalam hati melangkah menuju langgar.
Sebelum sampai di langgar, ia singgah di sebuah toko. Tak seberapa lama keluar menenteng sebuah kantong plastik hitam cukup besar. Tiba di langgar, ia tak lagi mendapati sepatunya. Kecewa pun merambati pikirannya. “Berarti aku harus membeli sapatu lagi.” Bisiknya sendiri sambil menuju belakang langgar. Belum tiba ke tempat dituju, seorang lelaki menyapanya.
“Mencari siapa, Mas?’ katanya.
“Mencari pengurus langgar ini.” Sahut Deri.
“Saya satu diantaranya,” sahut lelaki itu. “Ada sesuatu mungkin bisa saya bantu?”
“Tidak terlalu penting,” sahut Deri. “Tadi setelah salat Asar saya terbawa sandal ini, rencana akan saya kembalikan.” Deri menunjukkan sandal jepit di kakinya.
“Oh, saya pikir ada apa.” Sahut lelaki itu.
“Sekalian juga menitipkan ini.” Deri menyerahkan kantong plastik hitam.
“Apa ini?” tanya lelaki itu.
“Cuma 33 pasang sandal jepit. Semoga bisa dipakai saat jemaah berwudu.”
“Banyak sekali.” Kata lelaki itu.
“Sementara dicicil dulu, Pak,” sahut Deri. “Insya Allah gajian dua bulan berikutnya semoga terpenuhi jumlah yang saja janjikan.”
“Amin.” Sahut lelaki itu. “Jadi ini memenuhi nazar.”
“Iya, Pak.” Kata Deri melepas sandal jepit yang dikenakannya. “Tadi selesai salat lupa terbawa sandal ini, tapi sepatu malah tertinggal di sini.”
“Sepatu apa?” tanya lelaki itu.
“Sepatu safety, tapi tidak baru lagi.” Kata Deri.
“Sebentar.” Kata lelaki itu menuju belakang langgar. Sesaat ia kembali menenteng sepatu kulit.  “Apakah ini?” lelaki itu menyerahkannya pada Deri.
“Alhamdulillah. Iya ini sepatu saya.” Kata Deri. “Terima kasih, Pak.”
Deri mengenakan sepatunya dan pergi meninggalkan langgar. “Untunglah masih ada orang sebaik lelaki itu. Tapi kamu harus bersabar wahai kakiku yang setia. Suatu ketika kamu akan kukenakan sepatu baru tidak lagi terbungkus sepatu usang ini. Kamu juga harus rela sesekali menjepit sandal seperti tadi karena ada kalanya aku lupa.” Katanya tersenyum sekilas memandang ujung sepatunya tak saling berebut mendahului kiri dan kanan.
[Haidi .14.10.2012]
-------------------------------------------------------------------

Cerpen ini dimuat dalam kumpulan cerita pendek
"DI TAMAN NASIONAL KUTAI, TUHAN MENGUJI"



Judul Buku : Di Taman Nasional Kutai, Tuhan Menguji
Katagori     : Kumpulan cerita (Sastra)
Penulis       : Haidi
Penerbit     : AE Publishing
ISBN         : 978-602-7748-27-9
Tahun        : Nopember 2012
Halaman     : vi = 95; 13 x 19 cm

(Hak cipta dilindungi undang-undang) 
===========================

DI Taman Nasional Kutai, Tuhan Menguji

DI TAMAN NASIONAL KUTAI, 
TUHAN MENGUJI
-------------------------------------------
Judul buku   : Di Taman Nasional Kutai, Tuhan Menguji
Katagori       : Kumpulan Cerita Pendek
Penulis         : Haidi
Penerbit       : AE Publishing
ISBN           : 978-602-7748-27-9
Tahun          : Nopember 2012
Halaman       : vi + 95; 13 x 19 cm
Harga           : Rp30.000 (belum ongkos kirim)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

SINOPSIS :

          DI TAMAN NASIONAL KUTAI, TUHAN MENGUJI sebuah cerita pendek dari 12 cerita dalam buku ini. Berkisah tentang seorang jagawana di Taman Nasional Kutai. Masa kecilnya hidup susah dan tinggal di panti asuhan. Di panti itu ia dikeluarkan karena tuduhan pelanggaran disiplin. itu membuatnya terlantar dah hidupnya hampir berakhir.
     Kini kesempatan balas dendam terbuka. Orang yang menjadi pemicu ia terlantar sekarang ada dihadapannya. Cukup satu gerakan, dendam pun akan terbalas. Pikirannya bertarung, antara dendan dan rasa kemanusiaan, antara kasihan dan sakit hati. Bagaimana kisahnya, dendam ataukah rasa kemanusiaan akan tampil pada jagawana tersebut?

     Cerita lain TATAPAN KEKASIH. Kehidupan memang unik. Arah haluan hidup berubah bukan karena mendapat pendidikan di sekolah bergengsi. Bukan pula di hutan gedung pencakar langit. Bahkan tidak karena lima gelar di belakang dan depan nama. Tapi hanya karena peristiwa kecil. Peristiwa kecil seperti apa yang dapat memutar arah haluan hidup itu sebenarnya?
==============================
Buku dapat dipesan melalui SMS ke : 082155553455
-----------------------------------------------------------------

Jumat, 02 November 2012

[Kumcer] SEBUTIR PADI BUPATI

SEBUTIR PADI BUPATI
(Kumpulan Cerita Pendek)

SEBUTIR PADI BUPATI, sebuah kumpulan cerita pendek di antara 12 kisah dalam buku ini. Bercerita tentang ditemukannya sebuah benda aneh. Seperti sebutir padi namun lebih besar daripada biji salak, membuat gempar pemerintah kabupaten. Benda itu menyita uang miliaran. Membuat tak sedikit orang di lembaga pemerintah harus bekerja berat. Usaha selama berbulan-bulan tak membuahkan hasil. Seekor burung pipit ternyata memberi petunjuk. Namun benda itu telah punah. Benda apa sebenarnya itu? Mengapa sampai punah? Dapatkan kisahnya dalam buku ini.

Kisah lainnya tentang kehidupan bertetangga. Selama berpuluh-puluh tahun dua keluarga bertetangga tak pernah akur. Keributan hanya dipicu oleh hal-hal kecil yang tidak seharusnya terjadi. Apa sebenarnya yang ada dalam hati mereka? Dapatkah mereka akur kembali? Cerita pendek "Perang Bintang Tingkat Tetangga" akan memberi jawaban.

Pekerjaan seorang tukang cukur dipandang rendah. Sebagian memandangnya sebagai pekerjaan tak bergengsi. Benarkah begitu? Bagaimana pendapat "Keluarga Tukang Cukur" itu sendiri? Orang tua, anak, hingga menantu sebagai tukang cukur.
-----------------------------------------------
12 cerita pendek dalam buku ini :

1. Malam Pertama di Sudut Gang Buntu
2. Di Kesalahan Kecil
3. Wajah dalam Guci
4. Perang Bintang Tingkat Tetangga
5. Kuasa Si Raja Kecil
6. Kesetiaan Setan
7. Pisang Ajaib
8. Keluarga Tukang Cukur
9. Sebutir Padi Bupati
10. Wanita Beringin
11. Berita di Bungkus Nasi
12. Kebetulan Jodoh.
---------------

Penulis    : Haidi
Penerbit   : Hubsche Maedchen Group (Indi Pro Publishing)
ISBN       : 978-602-7770-10-2
Tahun      : September 2012
Tebal       : vii+109 halaman
Harga      " Rp35.000 (belum ongkos kirim)
-------------------------------------------------
Bisa dipesan melalui SMS ke : 082155553455
================================